ReviewReviewReviewReviewReview[Warning] Global Warming!Jul 26, '07 5:00 AM
for everyone
Category:Other
Tersentuh sekali dengan email yang dikirim oleh Mbak Ida Arimurti di milis We R Mommies di bawah ini.

Yuuuuukk! Kita mulai dari diri kita sendiri untuk memelihara bumi!
*Jadi tambah pengen punya sepeda*

==========================================

Global Warming : Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu
masalah yang perlu kita risaukan.

"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa
mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah
Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC)
memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat
mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu
merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 - 0,3o C. Jika peningkatan suhu
itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang)
lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus
memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga
kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan
orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu.
Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin
luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap,
begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu
minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun.
Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per
tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti
satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di
Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan
Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata,
permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi
terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta
(seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti :
Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya
kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es
yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan
laut bumi - termasuk laut di seputar Indonesia - terus meningkat.
Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis
kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang
sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan
orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat
tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR),
menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi
gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang
dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah
untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa
menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan
lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan
teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk
ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini
juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi
gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah
kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas
alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun
membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga
masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan
clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses
pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi.
Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara
itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama.
Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim.
Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki
bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan,
dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus
bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak
orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari
separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35%
rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara
Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi
masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu
karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas
rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah
menjadi permukiman atau
hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5
tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang
habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu,
anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet
Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk
anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :

1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan
standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak.
Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN
menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya
agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur
suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang

memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar.

Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang
kembali.

27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kuenyaoyan wrote on Jul 26, '07
makasi yah mbak artikelnya .... yuk kita mulai dari diri sendiri ...:)
rauffy wrote on Jul 26, '07
naik sepeda gak masuk yak :(
spinkage wrote on Jul 26, '07
rauffy said
naik sepeda gak masuk yak :(
masuk mas alan. ngurangin emisi :)
fetryz wrote on Jul 26, '07
*sigh........
maknyaabel wrote on Jul 26, '07
mari qta sama-sama menyayangi bumi qta yang semakin tua ini....

oya mungkin bisa jadi tambahan Wit, pakailah saputangan, jangan pakai tissue
dyru wrote on Jul 26, '07
kantong plastik ya...

tfs mba wit..
elkaje wrote on Jul 26, '07
TFS Wit, memang lebih mudah dimulai dari diri sendiri ya... gak usah mikirin yang lain dulu lah... sambil berdoa semoga banyak orang yang makin sadar.
tianarief wrote on Jul 26, '07
wah ngeri juga ya?
mari ah kita mulai dari diri dan lingkungan kita masing-masing.
reipras94 wrote on Jul 26, '07
ayo mulai naik sepeda dari sekarang.......
Bebas Macet
Bebas Polusi
Bebas BBM
Lebih Hemat
Lebih Sehat
Banyak Sahabat
"SAVE OUR PLANET"
(diambil dari flyer B2W-Robeker's)
pujay wrote on Jul 26, '07
mangkanya saya ga beli mobil ajah ... , udah gitu semangat menularkan alasan untuk tidak beli mobil ke saudara yg mo beli mobil .. adanya diomelin hihihihihi sok idealis padahal ga punya duit :)))
haleygiri wrote on Jul 26, '07
Tapi susah wit... yg kek ginian dah kutahu sejak kuliah dulu... tapi tetep susah consisten dengan apa yg ingin kita lakukan, meski selalu ingat... Termasuk dalam hal pemakaian plastik, misalnya...
mbaktika wrote on Jul 26, '07
berhubung males naik sepada mangkanya aku kemana mana jalan, atua ya niak bus lumayan ngirit satu kenalpot kan kalau naik bus hehehe
ti2n wrote on Jul 26, '07
yuk... mari kita mulai dari lingkungan sendiri :)
ibukomandan wrote on Jul 26, '07
nonton An Inconvenient Truth-nya Al Gore deh.. sepanjang film kita dibuat "sesek nafas". Lebih menyeramkan dibanding film horor.. tapi itu lah kenyataannya... Sayangnya di Indonesia campaign untuk global warming kurang gencar.. penduduk kurang aware.

Sekarang aku rajin copot2in kabel kalo sudah selesai dipakai... Computer, mesin fax, mesin fotocopy, langsung set energy saver setelah idle 5 menit.

Tapi skrg udah banyak gedung perkantoran yang disiplin matiin AC pada pukul 19.00, kecuali kantorku siy.. karena redaksi news yang 24 jam, banyak kru bertugas.. huhuhuhuhu..

sayangnya kita cuma punya 1 bumi.. dan ngurusnya susah bener... :( semoga belom telat-telat amat... global warning for global warming...
ibukomandan wrote on Jul 26, '07
Termasuk dalam hal pemakaian plastik, misalnya...
nah, ini yang bikin aku nggak ngerti... Semua orang tau kalo plastik adalah materi yang paling sulit dan terlama untuk didaur ulang. tapi kenapa masih banyak barang2 yang dikemas dalam bahan plastik ya?

memang sih, paper bag itu lebih mahal, tapi gpp lah.. demi bumi.. efek jangka pendek sih memang belum terasa, tapi setelahnya itu... huhuhuhuhuhu...
sikrit wrote on Jul 26, '07
jadi inget salah satu episode si Tukul ttg Global Warming Wit..
ngerejekeni wrote on Jul 26, '07
Kl belanja bulanan, aq hy mau terima 1 plastik kresek utk makanan basah, sisa barang yg lain masuk ke ransel jadi pas aq antri, ayah ambil ransel di penitipan tas, hbs itu barang belanjaan yg sudah dibayar lgsg masuk ransel..repot dan dipletotin SATPAM sih..tp kl bukan kita yg mulai, siapa lagi..*kuatir nasib anak cucu*
ardhanamesvari wrote on Jul 26, '07
Ma kasih bgt buat saran teman2 disini
memang semua hrs kita mulai dr diri kita sendiri dilanjutkan dg menularkan ke orang2 terdekat kita.
Jd pengen buat jurnal tentang ini... :)
myshant wrote on Jul 26, '07
sejak aku di rumah malah jd banyak pake listrik
termasuk komputer u/ ngempih
sering dibiarin idle krn ngempi sesempetnya
kalo bulak balik shutdown, lama lg idupnya ...huhuhu
imansoe wrote on Jul 26, '07
lebih enak naek kendaraan umum..
ngantuk tinggal tidur.. zzzz..
bundaghani wrote on Jul 26, '07
waaa...miris bacanya mbak
delkery wrote on Jul 27, '07
Semoga belom telat buat orang2 di Indonesia khususnya suka miris kalo lihat banyak plastik sampah yg susahnya jadi timbunan sampah, sementara tempat akhir pembuangan sampah masih minim...
oetjipop wrote on Jul 27, '07
yukk lebih peduli lingkungan yukkk
gitass wrote on Aug 23, '07
emang bener sih. apa yg bisa kita lakuin, lakuinlah skrg. meskipun hal kecil. anak2 juga aku print2 in mslh global warming buat ditempelin di mading n dibagiin ke temen2 sekelasnya. juga guru2nya. (printnya pake kertas bekas loh, biar support program ini juga...He..he..). SETUJU bawa tas sendiri buat belanjaan. daripada nimbun kresek di rumah. apalagi kresek warna item itu beracun loh..karena produk recycle yg plg akhir!
phophosay wrote on Sep 5, '07
aduh klo dibiarin terus... bumi kt bs sakit2an yak...
sedihnya....
masopang wrote on Oct 31, '07
ReviewReviewReviewReview
pujay said
udah gitu semangat menularkan alasan untuk tidak beli mobil ke saudara yg mo beli mobil .
satujuuuuuuu ! :-)
adhayantinur wrote on Dec 5, '07
iya nih prihatin ama dampaknya apalagi aku berasala dari pulau kecil di sulawesi n nger juga kalo pulang-pulang kerumah pulau udah makin sempit karena proses abrasi....kayak di salah satu pulau dipapua yang udah terbelah karena air laut..
makasih yah artikelnya
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help